Posts

SAJAK

Kadang kita akui yang hidup ini tidak menyebelahi kita. Membiarkan hidup kita dalam dilema pilihan. TERSEPIT Nukilan: pena hijau nun di sana terlihat sampan terumbang ambing oleh ombak samudera yang mengganas ke tengah tidak ke pantai pun tidak sampai jua nanti iakan tenang jua tibalah sampan di pinggir pantai

PANTUN

Salam buat semua. Saya nak kongsi sedikit pantun yang tak seberapa, manakan tahu berguna. kadang adap mentari pagi salam ditawar malap biasan empunya dedap dipinang lagi daun mawar sebagai balasan ditebang jangan merajuk kelak baru bertunas ajal menanti dipanjang tangan hukum ditolak semata melunas impian hati cuaca pagi mula membisu kerana keladi jemput gelita setitik nila tumpah ke susu habis budi hilang di mata kebaya nyonya sulaman kekal bermotif alam kelopak tiga kail andainya panjang sejengkal lautan dalam jangan diduga seroja melati kemboja melur deret berempat hiasi laman sahabat sejati salam dihulur hubungan rapat kekal berzaman melati seroja kemboja melur indah nan sakti mendamai Hang Jebat menanti jangan terus dihulur salam meniti tangan berjabat perdu siantan menyimpan keramat idaman beribu pawang negeri menjadi intan berjuta hikmat bukan tebu bibir diseri daunan palas susun bertiga letak di talam hijau terserlah air di...

Luka

LUKA Nukilan:pena hijau Luka Sering menanti waktu Melabuhkan dirinya Kadang luka datang Perginya tinggalkan parut Parut pergi bersama masa yang berlalu Kadang luka datang Perginya tinggalkan parut Dan parut menetap Diam selamanya Kadang luka datang Perginya tinggalkan parut Parut tak pergi Tapi sakitku bentan Hingga hujung hela Dan aku alami Bentan sakitku Dan sakitnya mendalam Diluah mati emak Ditelan mati bapak Cuma aku dalam kawalan Perlindungan Maha Esa

Padamnya pawaka

Image
Satu cerita Kankugubah Mengikut kata hati Sesak Menghimpit dada Hingga kuterbang tinggi Mencari penawar Mengikut kata hati Saat tenang bayu laut Segenap hamparan kucari Cangkerang kasih sayang Yang bersisa celahan pasir pantai Jujur kerinduan ini berbisik Diam dia masih celik alam Melihat empat permata Mengikut kata hati Terbang aku Bagai garuda membelah awan Pada musim luruh mempesona Beriring air mata Atas kerinduan teramat Inilah kata hati

Taman Kedamaian

Menyelongkar Bait kata dan tutur kata Untuk mengejut rohani yang lena Tampil satu per satu Tutur penuh makna Dari kasih sayang sahabat setia Takku mengerti sulaman bicaranya Hingga telinga gemersik menari-nari Menyusun silang kata puisi saudari Yang tulus rasa hatinya Memorinya adalah jawapan Yang berselindung bersama serabut mahkota kehidupan Kini Aku fahami Peti besi penantian yang menyimpan taman kedamaian

Hi....

Saat sering 'mengapa' terungkap... Jawapannya seakan muncul... Selamat membaca... Buka naskhah hidupmu Banyak calar dan parut terlukis di hati Adakah cukup untuk kaukembali menyembah? Sujud pada-Nya Telaah satu per satu parut yang ada Di mana beza dirimu dibanding yang lalu Makin bersyukurkah? Makin rapatkah hubunganmu dengan-Nya? Makin sujudkah hatimu? Atau Calar itu hanya mainan tak bernyawa Tiada harga hingga ungkapan syukur hilang Panahan halilintar menyentak Taufan menghendak Tsunami mengganas Mahu kausyukur atas nikmat dugaan Tidakkah semuanya mengejutkan kita dari lena kesenangan dunia Cucilah luka yang hadir Lihatlah parut yang ada Semuanya tanda Tuhanmu rindu akan dirimu Tidak pernah sesaat melupaimu

Kembali ke sangkar daulat

Assalamualaikum dan salaam sejahtera... Ini hadiah dari saya untuk rakyat Malaysia pada tanggal 31 Ogos 2016. KEMBALI KE SANGKAR DAULAT Nukilan: pena hijau Berdekad lalu Sangkar kita pudar Ruangnya diisi titisan jernih kesukaran Berteman percikan darah Kita sedar Pantasnya kita warna-warni yang indah Namun pudarnya ia Kerana dimilik susuk yang pentingkan diri Menjarah Tanah Melayu kerana segunung kencana Ditarah lahap Hingga kita burung kelaparan Hanya tunduk pada telunjuk sang rakus durjana Tidak kusangka Bangsaku bijak mengawal gelora Tercatit di lembar sejarah dunia Kembali kita ke sangkar daulat Atas aturan bicara di kota London